RSS

04/11/13

Dengarkan Aku

Aku adalah gadis tuna wicara.
Aku ingin dimengerti.
Dan inilah cerita bagaimana dunia bisa mengerti tentangku.

Terimakasih,

kakak


"Apa yang paling kau inginkan saat ini Lyra?"
Hari ini bu Guru bertanya padaku dengan wajah tuanya yang polos.

Jleb!
Rasanya jantungku tertusuk belati mendengarnya.
Senyuman kepedihan akan tersungging di bibirku kalau selenting pertanyaan benada datar itu ditujukan padaku. Sebetulnya aku tak perlu menjawab, habisnya di dunia ini aku hanya menginginkan satu hal yang aku tahu itu tak mungkin terjadi.

Kalau bu Guru sendiri, apa yang paling bu Guru inginkan?
Rumah? Emas? Jabatan? Uang bergelimpangan?

Itu adalah hal umum yang diinginkan banyak manusia.
Ibu Guru pasti ingin hal itu juga.

Tapi bu...
Aku nggak ingin semua itu!
Kalau aku… Aku hanya ingin bisa berbicara.
Simple kan?
Seharusnya bu Guru tahu itu.
Aku sudah 4 tahun di SD ini bu.

Namaku Selyra Rohnitah. Aku adalah salah satu dari sekian penderita tuna wicara. Dari kecil aku nggak bisa berbicara. Menangis pun aku tak bersuara. Aku begitu diam meski aku sendiri nggak ingin menjadi pendiam.

Tapi memangnya aku bisa apa? Aku tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun! Tak bisa kucurahkan semua rasa di hati.

Tak ada yang bisa mendengar jeritan hati ini.
Tak ada.


“Ngapain? Nulis diary?” sebuah suara ngebas milik kakakku membuatku terlonjak dan membuang buku kecil pink yang tengah menjadi sarana curahan hatiku spontan.
Dengan bahasa tubuh, aku memberi tahu kakak bahwa aku tak suka kakak yang hobi muncul mendadak tanpa salam, tanpa kata dan mencuri lihat apa yang sedang aku kerjakan.

Nggak sopan!

Kakak cuma terkekeh. Dia mencubit pipiku dan melepaskannya seperti ketapel. Mentang-mentang pipiku chubby, kakak jadi semena-mena. Coba aku bisa bicara, sudah aku senggrang dia. Bahkan mungkin sudah aku omeli habis-habisan.
Tapi itu semua tak akan terjadi.

Kututup buku diaryku, kuletakkan di meja dan aku pun turun untuk makan.

Seusainya makan, aku kembali ke depan buku diaryku.
Seluruh kejadian di meja makan kutulis ulang penuh emosi, bahkan tulisan penaku bergelombang seolah memancarkan emosiku.
Kutulis semua. Mulai dari kakak ngambil jatah pindangku, kakak yang ngehabisin sambel tanpa memberiku, dsb.

Huh! Aku kesal! Mentang-mentang aku nggak bisa bicara dan nggak akan terdengar suara ini, kakak seperti itu tiap hari.

Lihat saja. Diaryku penuh coretan kekesalanku padanya.
Sebel! Sebel! Sebel!
Kakak jahat!!!!!!

Seusainya aku menjelek-jelekkan kakak, marah-marah nggak jelas melalui diary. Aku berangkat les naik sepeda. Dan di saat itulah, sebuah sosok yang tak kutehaui masuk ke kamarku, mengambil buku diary yang lupa kusembunyikan.

Semenjak itu buku diaryku hilang bagai tertelan bumi.

Aku cari sampai tempat sampah pun nggak ada!
Dimana? Dimana?

Aku tak lagi bisa menuliskan kata hati. Aku jadi sering menangis sendiri di tengah sepinya malam kala tak ada yang mengerti.
Kenapa semuanya begitu tak adil???

Suatu pagi, temanku menyenggolku di sekolah mengucapkan selamat.

Selamat apaan?

Berjalannya waktu banyak yang mengucapkan selamat dan guru-guru pun menuturkan betapa mereka merasa haru.

Kenapa?

Betapa terkejutnya aku ketika kutemukan buku dalam jumlah banyak berjudul “Dengarkan Kisahku” beredar luas. Yang buat shock itu… Isi buku itu tuh buku harianku.

KOK BISAAAA ITU LHO????

“Biarkan semua orang mendengarkan kisahmu lewat tulisanmu, Lyra” kata kakak sambil tersenyum hangat waktu aku memaksanya berbicara dengan tatapan memelas.
Kakak…
Ternyata kamu…

by. DeelaNErth' 2014

0 review:

Posting Komentar